//
you're reading...
Renungan

Masjidku Kembali Sepi

 

Sepi, kini aku kesepian lagi

Setelah sebulan lamanya aku berseri

Oleh ramai orang yang mengunjungi

Sunyi, kini aku kesunyian lagi

Kemana aku harus bertanya

Tentang jamaahku yang kini tiada

Setelah sebulan lamanya

Mereka ramai mendatangiku dengan bersuka

 

Ramadhan belum lagi genap sebulan berlalu

Orang-orang pun masih enggan melepas baju baru

Tapi sebagian mereka lupa apa yang hendak dituju

Selepas ramadhan mestinya mereka lebih taat sujud dan ruku’

 

Aku rindu barisan sandal berderet ditanggaku

Aku rindu riuh takbir menggema diruanganku

Aku rindu hamparan sajadah dilantaiku

Aku rindu lirih dzikir menemaniku

 

Namun kerinduan itu hanyalah tinggal kerinduan

Aku kini layaknya bangunan tak bertuan

Orang-orang enggan dan tak lagi berkenan

Memasuki ruanganku seperti kemarin ramadhan

 

Tidakkah sebulan latihan

Tidak cukup untuk memberi kesadaran

Bahwa ramadhan adalah latihan

Yang harus dibuktikan pada bulan-bulan berjalan

 

Tarawih, tadarus dan shalat malam

Bukanlah sebatas amalan sebulan

Melainkan sebuah kebutuhan

Bagi mereka-mereka yang beriman

 

Lailatul qadr yang banyak dinanti

Tak akan banyak berarti tanpa bukti….

 

Tak mengenal lelah untuk beribadah. Itulah salah satu kenangan bulan Ramadhan yang terekam dalam ingatan kita. Bayangkan, selepas bulan puasa ketika perut masih penuh sesak dengan makanan, kita dipanggil Allah untuk melaksanakan ibadah sholat isya berjamaah dan sholat tarawih. Namun di tengah kelelahan kita masih mampu melaksanakannya bahkan dengan sempurna. Begitu tinggi spirit bulan Ramadhan tertanam dalam jiwa kita. Demikian pula tatkala mata terlelap menikmati enaknya tidur, kita rela bangun pada akhir malam untuk melaksanakan sahur. Tidak tidur lagi, tetapi kemudian menanti kedatangan waktu sholat subuh berjamaah. Sayang rasanya apabila kita tinggalkan ibadah sholat subuh berjamaah.

 

Selama sebulan penuh masjid & mushola penuh setiap malam. Siangnya pun masjid & mushola ramai dengan orang-orang yang ngabuburit dan tadarus atau beristirahat sekadar melepas lelah. Lisan kita basah dengan tilawah Al-Quran semua orang seolah-olah dikejar target untuk mengkhatamkan Al-Quran pada bulan yang penuh berkah.

 

 

https://www.facebook.com/pages/Renungan-Islam/112879985422916

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: