//
you're reading...
Kisah, Uncategorized

Menjalani hidup di hutan

Hampir tak ada yang bisa diselamatkan, semua barang basah kuyub karena angin tadi malam. Rumah, tikar dan bajupun tak terhindarkan. Hal seperti ini hampir tiap hari terjadi. Musim hujan ataupun kemarau, hujan angin selalu datang menerpa. Mungkin karena lokasi tempat tinggal yang berada di celah perbukitan. Sehingga angin gunung leluasa lewat tanpa ada halangan. Keadaan seperti ini menjadi rutinitas yang tidak dapat dihindari, apa mau dikata terkadang alam lebih berkuasa daripada manusia. Menjalani hidup dihutan hanya bisa pasrah.

20140406_062352

Tak lelah setiap hari Agus dan Ibunya merapikan rumah, karena hanya rumah inilah, harta satu-satunya yang mereka miliki. Tak ada tempat lain untuk berteduh dari angin dan hujan selain di rumah kecil ini.

Hanya ada tiga kepala keluarga yang tinggal di hutan ini, tanpa uang sewa ataupun syarat yang menyulitkan. Untuk warga miskin diberi kemudahan seperti ini. Namun tampaknya lokasi ini berada di lembah antara perbukitan yang membuat pepohonan tak dapat bertahan karena kerasnya terpaan angin. Bahkan tiang rumah ini pun harus ditanam, tujuannya agar rumah tidak roboh menahan terpaan angin. Tak bisa dipungkiri, setiap hari Agus harus naik ke atap mengecek balok-balok kayu penimpa plastik. Karena sering kali angin membuat plastik dan balok kayu ini bergeser. Beberapa kali atap rumah ini terbang terbawa angin. Bila sudah demikian Agus harus memasangnya. Agus sebenarnya merasa takut bila tinggal disini. Ingin seperti orang lain yang hidup aman dan nyaman di sebuah rumah.

Sudah dua tahun ini, Agus tidak lagi bersekolah. Tinggal jauh dari pemukiman warga membuatnya kesulitan menjalani sekolah. Jarak yang di tempuh setiap hari cukup jauh, belum lagi waktu itu hanya dirinya yang bersekolah di daerah ini. Sehingga Agus sering takut jika berada di jalan sendirian.

Sekarang dikala dirinya sudah besar barulah mengerti, bahwa berhenti sekolah membuatnya kehilangan banyak hal. Teman bermain dan belajar tak lagi dia temui saat ini.

Sebagai anak paling kecil sudah menjadi kewajibanya untuk menemani orang tua. Mengingat kakak-kakaknya sebagian sudah menikah dan bersekolah dipondok. Apalagi orang tuanya mulai tua dan sakit-sakitan. Sangat membutuhkan bantuan orang lain. Sungguh berat hidup yang harus Agus jalani. Tak banyak pilihan baginya. Walau masih muda setiap hari dia harus bergelut dengan pekerjaan yang begitu berat. Menjadi anak seorang petani sayuran, sudah barang tentu dia harus mampu bercocok tanam.

Sementara hingga usianya menginjak sudah lebih dari 70 tahun, Ayah Agus masih harus berjuang mencari nafkah.

Seumur hidup keluarga ini bekerja sebagai petani, karena hanya ini keahlian yang mereka miliki. Namun sayang, tak ada sebidang tanah pun untuk digarap. Akhirnya dengan terpaksa ia memilih berkebun di tengah hutan. Jarak hutan yang jauh dengan perkampungan inilah yang memaksanya untuk berpindah tempat tinggal. Dan membawa serta kedua anaknya yang telah menikah. Namun kesengsaraan belum mau pergi beranjak. Ketiadaan modal membuatnya bercocok tanam seadanya saja. Untuk bibit dan pestisida saja dia harus sering kali berhutang kepada tengkulak. Hasil yang minim seringkali habis untuk membayar hutang, untuk makan sehari-hari mereka hanya mengandalkan apa yang ada disekitar rumah.

Di masa tuanya perjuangan hidup Ujah semakin berat dirasakan. Harga sayuran yang semakin murah disambut riang oleh para tengkulak, karena fisik yang tidak memungkinkan kini dia mengandalkan Agus untuk membantunya bertani.

Kini tak ada waktu bermain layaknya anak seumurannya, disaat ayahnya sakit dan tidak bisa berkebun Agus bisa menggantikannya. Walau tak sebaik ayahnya paling tidak dia sudah bisa meringankan beban.

Agus sangat memahami kesulitan yang dialami orangtuanya, untuk hidup sehari-hari keduanya masih harus sering berhutang. Kondisi ayah yang renta dan sakit-sakitan membuatnya khawatir.

Hidup di hutan bagi yang trampil tak akan kekurangan makan, semua kebutuhan sudah disediakan oleh alam. Salah satunya menantu Ujah, dia memiliki keahlihan elektronik. Dari tangannya coba diciptakan listrik tenaga air. Sebuah kincir air sederhana yang diharapkan mampu memasok listrik untuk tiga rumah.

Sedikit modifikasi sederhana memberikan sedikit kemudahan bagi keluarga Ujah. Mereka mendapat penerangan saat malam tiba. Bila musim kemarau seperti ini, alat ini tidak dapat bekerja. Debit air yang kecil tentu tak mampu memutar kincir. Listrik pun tak dapat dialirkan kerumah. Kincir buatan sendiri ini bentuknya masih sangat sederhana. Membutuhkan perawatan ekstra agar mampu terus bekerja.

Beberapa kali membutuhkan perbaikan karena mesin mengalami kerusakan. Saat musim seperti inilah perbaikan dilakukan, saat mesin sedang beristirahat bekerja. Hanya ini yang bisa dilakukan keluarga Ujah agar bisa hidup layak seperti keluarga yang lain. Kincir ini memiliki tenaga yang kecil, hanya mampu memberikan energi enam lampu di tiga rumah. Namun begitu Ujah tetap bersyukur saat musim hujan mereka tidak kegelapan di malam hari, karena ada lampu menyala dirumah kecilnya.

 Orang Pinggiran Trans7

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: