//
you're reading...
Dongeng

✎ Bayangan Pohon Mangga

Matahari bersinar garang. Hari panas sekali. Pohon mangga menjatuhkan bayangannya pada rumpun mawar. Mawar itu sedang berbunga. Bunganya yang berwarna merah segar tampak mempesona. Indah sekali.

“Pakis yang sudah kegerahan sejak tadi memandang iri. “Kamu enak sekali Mawar. Hari-hari terakhir pohon mangga selalu menjatuhkan bayangannya padamu. Tak sedikipun dia memperhatikan yang lain,” keluh Pakis.

“Tentu saja. Lihatlah bungaku ini. Indah khan? Pohon mangga sangat menyukainyaa. Karena itu dia tidak mau membiarkan aku kepanasan.”

“Tapi itu khan tidak adil. Kami semua kepanasan sepanjanh hari,” kata Anggrek. “Kalau begini terus, kami bisa layu dan mati,” timpal Kembang Sepatu.

“Jangan mengeluh padaku. Katakan saja langsung pada pohon mangga,” kata Mawar.

Anggrek lalu memberanikan diri menanyakan hal itu kepada pohon Mangga, tapi si pohon itu tak mempedulikannya. “Ini khan bayanganku, terserah aku dong mau kujatuhkan dimana,” ujarnya enteng.

“Kasihanilah kami. Kami bisa mati karena kepanasaaan terus menerus,” kata Gladiol yang diam saja sejak tadi.

“Itu masalah kalian. Aku tak mau tahu. Salah kalian sendiri tidak punya bunga seindah Mawar,” kata pohon Mangga dengan pongahnya.

Oh…oh alangkah sedihnya bunga-bunga di taman itu. Tapi mereka tak dapat berbuat apa-apa. Untunglah Awan mendengar percakapan itu. Dia menjadi kesal pada pohon Mangga. “Aku akan memberi pelajaran padanya,” gumam Awan.

Lalu Awan mendekat ke bumi. Tak lama kemudian hujan pun turun. Bunga-bunga bersorak kegirangan. “Hei ada apa ini? Kenapa hujan tak membasahiku?” seru pohon Mangga heran.

Bunga-bunga memperhatikan pohon Mangga. Benarlah. Hujan membasahi mereka semua kecuali pohon Mangga. Daun-daun pohon Mangga tetap kering, begitu juga tanah di sekelilingnya.

Pohon Mangga lalu protes pada Awan.

“Jangan protes padaku. Aku hanya meniru kamu. Terserah aku dong, menurunkan hujan hanya ditempat yang aku suka,” kata Awan.

Pohon Mangga terdiam dan malu sendiri. Dan pada hari-hari berikutnya, kejadian itu terulang lagi. Tak setetes air hujan pun membasahi pohon Mangga. Pohon itupun kekurangan air. Daunnya mulai kuning dan berguguran. “Aku bisa mati kalau begini terus,” keluh Pohon Mangga. Dia menyesal telah pilih kasih kepada rumpun Mawar selama ni. “Apa yang harus kulakukan?” gumamnya.

Pohon Mangga memandang matahari. Dia sibuk mencari jawaban bagqimana cara membagi bayangannya dengan adil kepada bunga-bunga di taman. Dengan demikian, mungkin Awan mau menurunkan hujan padanya. Tapi Matahari tak mau menjawabnya. Dengan diam, Matahari bergerak perlahan dari timur ke barat.

Aha, pohon Mangga terlonjak. Dia tahu sekarang. Dia akan menjatuhkan bayangannya mengikuti gerak Matahari, tapi pada arah yang berlawanan. Itulah satu-satunya cara paling adil.

Dan pagi-pagi sekali ketika Matahari baru terbit, pohon Mangga menjatuhkan bayangannya pada rumpun pakis disebelah barat pohon Mangga. Lalu bayangan itu bergerak perlahan mengikuti Matahari dan jatuh pada rumpun mawar. Bergerak lagi pada rumpun Kembang Sepatu. Dan pada pukul 12 siang, bayangan itu jatuh pada dirinya sendiri. Setelah itu pada Gladiol, Aster dan lain-lain.

Bunga-bunga semua bersorak. Itu memang cara paling adil. Semua bunga sama-sama kebagian bayangan pohon Mangga. Lama jtuhnya bayangan juga sama.

Diatas sana, Awan tersenyum memperhatikan bayangan pohon Mangga bergerak. Tiba-tiba dia meluncur turun ke bumi dan tik..tik..tik, hujan pun turun.

“Hei sekarang aku juga kebagian hujan,” sorak pohon Mangga. Dia lega sekali. Ternyata akalnya berhasil. Pohon Mangga segera menyerap air hujan banyak-banyak.

Sejak itu semua tanaman menjatuhkan bayangannya mengikuti gerak matahari. Bahkan manusia dan juga benda-benda lain. Coba kamu letakkan sebuah benda dibawah matahari dan perhatikan bayangannya. Bayangan itu juga bergreak mengikuti gerak Matahari kan, ya?

Sumber :
http://www.facebook.com/notes/kumpulan-dongeng-cerita-rakyat/bayangan-pohon-mangga/10151202516143756

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: