//
you're reading...
Cerpen

✎ Negeri di Awan

Hai !! apa kabar pembaca, salam kenal namaku Bagas, aku ingin berbagi dengan kalian tentang masa lalu, peristiwa ini masih kukenang sampai sekarang. Kejadiannya bermula saat aku berumur 8 tahun, tentang seorang perempuan, walaupun aku tidak begitu mengenalnya, hati ini selalu menunggu kehadirannya.
“Saat itu tahun 1996, aku adalah seorang anak petani, anak pertama dari dua bersaudara yang tinggal di desa terpencil, jauh dari kota serta belum teraliri listrik, adikku perempuan namanya Dewi terpaut 2 tahun denganku.

“Beginilah kehidupan di desa, gembala kambing di dekat stasiun, adalah hal rutin setiap pulang sekolah, sambil melihat kereta api lewat, karena kebetulan desa ku dipisah oleh rel kereta api.
“Sampai suatu hari saat aku dan teman ku sedang asyik bermain, berhenti kereta dari arah barat, keluar seorang wanita dari gerbong kereta, dia menatap kami sambil tersenyum. Apa mungkin dia warga sekitar sini, pikirku, tapi aku belum pernah melihatnya.

“Dia menghampiri kami, sambil memberi beberapa buah-buahan. Seketika kami pun menjadi akrab.
Sesudah mengobrol panjang lebar, sesuai dugaanku, dia memang satu kampung denganku, namanya mbak Anis begitu kami memanggilnya. Sejak lulus SMU 5 tahun lalu, dia merantau ke kota untuk bekerja dan kini sedang menengok orang tuanya.“Hari hari berlanjut, tatkala kami bermain dipinggir sungai, mbak Anis datang bergabung. Dengan suaranya yang merdu, serta senyumnya yang penuh kasih dia bercerita banyak hal tentang kehidupannya di kota.

“Sampai datang hari itu, seperti biasanya mbak Anis datang. Dibawanya peralatan menggambar. Kali ini mbak Anis tampak menggambar sebuah istana dengan awan mengelilingi. Aku ingin bertanya tapi bingung bagaimana harus memulai, kenapa mbak Anis menggambar istana, itu seperti yang ada di buku pelajaranku, tiba-tiba seorang temanku bertanya”.

“Ini memang terlihat seperti istana, tapi lebih indah bahkan desa kalian pun kalah indah, jawabnya”. Kakak bohong istana seperti itu cuma ada di dongeng, kataku mulai heran”. Kamu salah, tempat ini memang ada, tapi memang tidak terlihat karena ini adalah sebuah negeri di awan, mbak Anis mulai menjelaskan.
“Aku pun bertanya kembali : “ kalo memang ada tempat seperti itu, bagaimana kita kesana, itu gak mungkin kan?

“Caranya mudah, taat beribadah, berbakti kepada orang tua, sayangi teman, dan jangan lupa untuk selalu tersenyum, itu pesan mbak, jawabnya sambil mengemasi barang yang dia bawa.

“Kami terdiam sejenak.

“mbak anis mau kemana,
“mbak harus kembali ke kota, jaga diri kalian dan ingat pesan mbak.

Mataku terasa pedih, ingin menangis, tapi aku kan laki-laki(dalam hati).

Dengan santai mbak Anis menuju  stasiun, kami mengikuti sambil membawakan barang yang dibawanya.

“Sepuluh menit di Stasiun kereta datang, dia menuju ke gerbong sambil mengayunkan tangannya tanda selamat tinggal.” Kereta berjalan, kami mencoba berlari mengejar semampunya, berharap berharap mbak

Anis merasa kasihan lalu mengurungkan niatnya. Tapi kereta terlalu cepat, kaki kecil kami tak sanggup lagi mengejar”.

 

“Cerita diatas hanya fiktif belaka, berdasarkan video klip Katon Bagaskara (Negeri di Awan).

Maaf kalau ada kata-kata yang kurang pas dihati pembaca. Karena pemilik blog ini bukanlah seorang penulis… !!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: