//
you're reading...
Kisah

✎ “Kisah Tragis Percintaan Ki Ageng Mangir dan Dewi Pambayun”

Diceritakan oleh Sita

Tersebutlah daerah Mangir di Jawa Tengah yang dipimpin oleh seorang kepala daerah bergelar Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Oleh masyarakat setempat beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang cukup bijaksana, dicintai masyarakatnya, bertanggung jawab atas daerah yang dipimpinnya, dan selalu melindungi rakyatnya. Ki Ageng Mangir juga dikenal sebagai seorang tokoh yang memiliki ilmu kadigjayaan tinggi, sakti mandraguna, linuwih tanpa tanding. Segala kesaktian dan kadigjayaannya ini adalah berkat senjata pusaka yang dimilikinya, yaitu berupa tombak sakti  bernama “Kyai Baru Kelinting.

Menurut cerita masyarakat setempat, setelah Kerajaan Pajang mengalami kesuraman, wahyu kerajaan berpindah ke Mataram yang pada waktu itu dipimpin oleh putra angkat Sultan Pajang, putra Ki Gede Pamanahan bernama Mas Ngabehi Loring Pasar bergelar Panembahan Senopati Ingalogo Abdurahman Saiyidin Panotogomo.

            Setelah Kerajaan Pajang runtuh dan pemerintahan dipegang oleh Panembahan Senopati inilah terjadi banyak pemberontakan. Daerah-daerah yang tadinya di bawah kekuasaan Pajang seperti; Pati (Pralogo), Wirosobo terletak di daerah Wonosobo, ingin memisahkan diri, tak terkecuali daerah Mangir yang dikuasai oleh Ki Ageng Mangir Wonoboyo ini. Bersama-sama para murid dan para pengikutnya Ki Ageng Mangir Wonoboyo memimpin pemberontakan karena tak mau lagi diperintah oleh Mataram pimpinan Panembahan Senopati yang menurut dirinya memerintah dengan tidak bijaksana, selalu memaksakan kehendaknya sendiri, dan  mau menang sendiri.

Daerah-daerah lain dengan mudah dapat ditundukkan Mataram, hanya daerah Mangirlah yang tak bisa ditundukkan oleh Mataram. Berulang kali Mataram membujuk baik dengan cara damai maupun dengan cara keras, akan tetapi Ki Ageng Mangir tetap pada pendiriannya, malah dengan gagah perkasanya ia menantang Mataram, dan tetap tak mau tunduk di bawah kekuasaan Mataram.

Menghadapi persoalan ini, Panembahan Senopati berang dan ia segera mengumpulkan segenap bawahannya dan para punggawa kerajaan untuk bermusyawarah mencari siasat untuk menaklukkan daerah Mangir di bawah pimpinan Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang sakti mandraguna itu dengan tombak saktinya Kyai Baru Kelinting. Dalam pertemuan itu hadir Ki Juru Mertani, dan Pangeran Mangkubumi.

“Baginda, Ki Ageng Mangir itu memiliki tombak sakti Kyai Baru Kelinting yang sukar ditandingi”. Tukas Ki Juru Mertani kepada Panembahan Senopati. Sambil memegang dagu dengan tangan kanannya Ki Juru Mertani melanjutkan kata-katanya ;

“Kita harus sedikit mau berkorban baginda, agar tak banyak lagi jatuh korban di pihak kita karena ulah Ki Ageng Mangir ini, meskipun pengorbanan itu mungkin akan terasa berat bagi baginda sendiri, sebab tanpa pengorbanan itu, saya berkeyakinan upaya kita akan sia-sia . Oleh karena sepanjang sepengetahuan saya, kesaktian tombak Kyai Baru Kelinting itu tak bisa dikalahkan dengan cara kekerasan. Kesaktian tombak tersebut hanya bisa dipunahkan jika tersentuh ikat pinggang (kemben) seorang wanita”.

Mendengar penuturan itu baginda Panembahan Senopati sangat setuju, lalu berkata kepada Ki Juru Mertani;

“Baik, aku setuju dengan pendapat Ki Juru, akan tetapi siapakah wanita yang akan menjadi umpan untuk mendekati Ki Ageng Mangir dan tombak saktinya itu, lalu bagaimanakah caranya?”  Berkata baginda Panembahan Senopati kepada Ki Juru Mertani.

Tentu saja orang yang terdekat dan sudah kenal akrab dengan Ki Ageng Mangir, yaitu putri baginda sendiri ananda Dewi Pambayun, baginda!”. 

Setelah bermusyawarah sekian lama, demi kehormatan dan kebesaran kerajaan Mataram, Panembahan Senopati akhirnya menyetujui dengan siasat Ki Juru Mertani, dan segera Ki Juru Mertanipun memaparkan rencana selanjutnya. Pada akhirnya  dicapai suatu keputusan bahwa Putri Panembahan Senopati sendiri yaitu Dewi Pambayun yang mengemban tugas berat ini.

Putri Panembahan Senopati Dewi Pambayun dikenal sebagai putri yang teramat cantik, pandai menari, dan memiliki suara yang indah.  Tembang-tembang yang dinyanyikan Dewi Pambayun akan terasa lebih indah dan enak untuk didengar. Dalam tugasnya ini Dewi Pambayun menyamar berperan menjadi “Teledek” atau penari keliling. Dalam penyamarannya itu, Dewi Pambayun  dikawal oleh  para  pengawal  kerajaan yang dipimpin oleh kepala pengawal, Pangeran Mangkubumi yang menyamar sebagai rombongan  teledek. Dalam penyamarannya itu rombongan harus berkeliling sampai ke daerah Mangir yang merupakan daerah kekuasaan Ki Ageng Mangir Wonoboyo.

Tugas rahasia ini dilaksanakan dengan penuh hati-hati sehingga Teledek  terkenal yang berkeliling di setiap desa itu sesungguhnya adalah Dewi Pambayun putri Sultan Mataram,  Panembahan Senopati Ingalogo Abdurahman Saiyidin Panotogomo. Rupanya siasat ini cukup ampuh, Ki Ageng Mangir yang mendengar berita tentang teledek yang cantik, pintar menari dan menyanyikan tembang ini menjadi penasaran dan berminat untuk memanggil kepala rombongan kesenian tersebut untuk tampil di daerah kekuasannya, desa Mangir. Sudah barang tentu hal ini membuat kepala rombongan, Pangeran Mangkubumi merasa senang hatinya oleh karena memang inilah yang menjadi tujuannya, pucuk dicinta ulampun tiba.

Singkat cerita, rombongan tari Putri Dewi Pambayun dan kepala pengawal kerajaan Pangeran Mangkubumi tampil di rumah kediaman Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Menyaksikan keluwesan gerak tari dan kecantikan wajah Dewi Pambayun, Ki Ageng Mangir merasa tertarik dan jatuh cinta dan hasrat tersebut diungkapkan Ki Ageng Mangir kepada Dewi Pambayun. Rupanya cinta tak bertepuk sebelah tangan, melihat kegagahan, keperkasaan, dan ketampanan Ki Ageng Mangir, Dewi Pambayun jatuh cinta pula dan menerima pinangan Ki Ageng Mangir. Sejak saat itu merekapun pada akhirnya menjadi suami istri yang syah dan Dewi Pambayun tinggal di Mangir untuk bebarapa waktu yang cukup lama.

Sebagai seoranng istri yang sudah cukup lama mendampingi suaminya Ki Ageng Mangir, Dewi Pambayun sudah barang tentu mengenal lebih dekat akan sifat, karakter, dan kebiasaan-kebiasaan suaminya itu. Dewi Pambayunpun sudah melihat dan memegang bahkan sudah mengusap senjata andalan, tombak sakti Kyai Baru Kelinting itu dengan kembennya. Lenyaplah sudah kesaktian tombak tersebut, punah oleh usapan sang putri Mataram, Dewi Pambayun. Setelah melaksanakan tugasnya, beberapa hari kemudian Dewi Pambayun berkata kepada suaminya Ki Ageng Mangir, mengajak suaminya itu agar berkunjung ke Mataram untuk menghadap mertuanya yang sekaligus juga musuhnya itu. Pada awalnya Ki Ageng Mangir menolak keras ajakan istrinya itu, karena dalam hati kecilnya, ia merasa ini adalah hanya siasat Mataram untuk menaklukkan dirinya, akan tetapi karena bujuk rayu istrinya yang begitu merajut, penuh dengan perasaan cinta, Ki Ageng Mangir tak berdaya, hatinya luluh juga dan mengabulkan permintaan istrinya yang sangat dicintainya itu.

“Baiklah Pambayun, aku mempercayaimu! Andaipun ini adalah siasat ayahmu atau mungkin siasat engkau sendiri, aku ikhlas dan rela. Aku tahu semuanya ini saat kau mengusap senjata andalanku tombak Kyai Baru Kelenting ketika aku tertidur . Ini artinya , sebagian besar kesaktian tombak itu sudah punah, artinya pula sebagian kesaktian yang ada di tubuhku inipun telah lenyap pula”. Demikian Ki Ageng Mangir berucap kepada istrinya Dewi Pambayun yang sangat dicintainya itu. Mendengar ini Dewi Pambayun tertunduk diam membisu, dalam hati kecilnya ia merasa malu dan menyesal dengan apa yang dilakukan terhadap suaminya itu. Sesungguhnya ia juga sangat mengagumi dan mencintai suaminya itu, akan tetapi apalah daya semuanya itu memang sudah menjadi tugas negara yang diemban kepadanya dan harus dilaksanakan dengan baik penuh pengorbanan.

“Baiklah, Pambayun! Meskipun setengah kesaktian tombak Kyai Baru Kelenting masih melekat dalam tombak dan tubuhku ini, aku tidak akan menggunakannya, aku tidak akan membawanya, sesuai dengan harapanmu, harapan ayahmu, harapan kepala pengawalmu Pangeran Mangkubumi itu. Dan perlu engkau ketahui semua ini aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, mencintai anakku yang mungkin akan kau kandung kelak. Dan perlu kau ketahui juga, aku sama sekali tidak akan menyerah dan berpantang mundur dengan apa yang sudah aku lakukan sebagai seorang pemimpin yang dipercaya oleh rakyatku di Mangir ini”.

Singkat cerita, akhirnya Ki Ageng Mangir dan istrinya Dewi Pambayun beserta para pengawal kerajaan mataram yang menyamar sebagai  rombongan tari tersebut berangkat menuju Mataram untuk menghadap Sri Sultan, Panembahan Senopati. Beberapa waktu kemudian, sampailah Ki Ageng Mangir di hadapan Sri Sultan, ia diterima dengan penuh keramahan oleh Panembahan Senopati. Menerima sikap yang penuh keramahan, keakraban dan penuh kekeluargaan ini, kewaspadaan Ki Ageng Mangir lenyap. Segera iapun merunduk bersimpuh di hadapan mertuanya itu untuk memohon doa restu karena telah menikahi putrinya. Sungguh tak dinyana, Sri Sultan Panembahan Senopati Ingalogo Saiyidin Panotogomo  tiba-tiba memegang kepala Ki Ageng Mangir, dengan kekuatan penuh yang mengandung kesaktian, Sri Sultan membenturkan kepala Ki Ageng Mangir ke lantai batu keras luar biasa bernama batu gilang. Saat itu juga maka tewas dan perlayalah Ki Ageng Mangir dengan kepala pecah.

Demikian kisah tragis percintaan Ki Ageng Mangir dengan putri Panembahan Senopati raja Mataram, Dewi Pambayun. Ia merelakan suaminya  dibunuh dengan cara keji seperti itu, berkorban demi tugas Negara yang diembannya, mau menikah dengan pemberontak kerajaan Mataram musuh ayahnya itu. Demikian sebaliknya, Ki Ageng Mangir yang sakti dan digjaya, linuwih tanpa tanding itu pada akhirnya takluk tak berdaya oleh bujuk rayu Dewi Pambayun. Ia merupakan korban bujuk rayu dan pengkhianatan wanita.Menurut cerita, mayat Ki Ageng Mangir dibelah dua. Setengah dimakamkan di dalam komplek pemakaman raja-raja Imogiri, dan setengahnya lagi disemayamkan di luar kompleks pemakaman itu. Hal ini merupakan perlakuan Raja Mataram Panembahan Senopati yang masih mengakui Ki Ageng Mangir sebagai menantunya yang sekali gus juga musuh besarnya.

Referensi : James Dananjaya,Cerita Rakyat Dari Jawa Tengah. Grasindo. 1992

KESIMPULAN :

Kisah ini termasuk legenda atau cerita rakyat karena oleh sebagian masyarakat Jawa Tengah dipercaya memang pernah benar-benar terjadi, dan mereka dapat menunjukkan bukti makam Ki Ageng Mangir yang tewas secara tragis tersebut. Adapun pelajaran positif yang bisa kita ambil dari cerita legenda ini adalah bahwa kita harus bersikap hati-hati tak boleh cepat percaya oleh kelembutan, dan kecantikan serta keramahtamahan seseorang yang menghanyutkan dan penuh tipu muslihat yang pada akhirnya kalau kita tidak waspada akan menghancurkan diri kita sendiri.

S E K I A N

pangarakan.blogspot.com

Diskusi

One thought on “✎ “Kisah Tragis Percintaan Ki Ageng Mangir dan Dewi Pambayun”

  1. Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!.Berapa banyak orang Jawa atau pemerhati sejarah yang terjebak cerita tendensius Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng mangir adalah seorang mualaf yang sangat tinggi ilmunya, Pengislamanya menjadi kacau balau dengan adanya cerita pembunuhan dirinya oleh Kanjeng Panembahan Senopati, sehingga yang timbul adalah cerita tentang kepengecutan P.Senopati, padahal Mangir terbunuh oleh konspirasi yang tidak ingin kekuatan Mataram berkembang dengan adanya Mangir dalam jajaran kekuatan Mataram. Mangir memang terbunuh oleh batu gatheng dari belakang dengan kepala pecah, tetapi bukan oleh P Senopati melainkan oleh P.Ronggo.Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://panyutro.blogspot.com/ , akan anda temui kejutan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang

    Posted by etcetera | Januari 20, 2013, 12:29 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: