//
you're reading...
Cerpen

✎ Nenek

oleh Restoe Prawironegoro Ibrahim

SATU minggu kemudian kudengar rumah nenek akan segera dimusnahkan. Bibi Enyem, sebagai pewaris yang paling berhak telah menjual rumah ini kepada seorang developer. Katanya, di sana akan dibangun pertokoan, bussines center. Katanya, untuk memenuhi tuntutan kebutuhan warga kota yang tengah menjelma menjadi masyarakat industri. Aku tak mengerti semua itu. Yang aku tahu hanyalah aku bakal kehilangan tempat berteduh lagi. Aku sempat cemas. ‘Bagaimana ini?’ pikirku.

Namun kecemasan itu buru-buru kutepis. Mengapa aku harus merasa cemas? Toh dulu, saat masih tinggal dari kamar ke kamar dengan menggandeng tangan para laki-laki hidung belang yang datang dari jalan, aku sudah memasrahkan diri pada nasib. Terserah sama Yang Di Atas mau berkehendak seperti apa.

Pada malam terakhir sebelum rumah itu dirobohkan, kurasakan nenek berada di dekatku lagi. Seperti tampak olehku, dia berdiri di sisi dipan. Jubahnya yang putih panjang berkibar-kibar lembut menebar harum. Maka, kulepas semua rindu. Kutatap wajah itu lekat-lekat. Begitu putih. Begitu bersih. Kutatap juga bibirnya, yang tak pernah lepas dari senyum itu. Juga mata kecoklatan itu, yang semakin lama tampak semakin mengaca. “Nek…,” sapaku lirih. Entah mengapa hanya kata itu yang bisa aku ucapkan.

Tapi nenek ternyata tak pernah menikah. Di rumahnya yang besar itu nenek tinggal seorang diri. Aku heran mengapa nenek betah hidup dengan cara seperti itu. Tanpa anak, tanpa suami.

* * *

Mulanya aku sempat menduga-duga beberapa kemungkinan. Nenek barangkali pernah dikecewakan. Hal yang begini seringkali terjadi. Kata orang, kekecewaan perempuan membekas lebih dalam dibandingkan dengan kekecewaaan laki-laki. Contohnya sudah sangat banyak. Pelacur-pelacur di tempatku yang bekerja tempo hari hampir semuanya punya latar belakang demikian. Kekecewaan akan cinta yang dikhianati. Semuanya telah diserahkan, tapi kemudian malah ditinggalkan.

Barangkali nenek mengalami kejadian yang agak lain. Barangkali nenek memang tidak laku. Artinya, memang tak ada laki-laki yang naksir dia. Tapi setelah kupikir-pikir, kemungkinan yang ini rasanya hampir mustahil. Mengapa? Dari segi materi nenek terbilang mapan. Omong kosong jika ada laki-laki yang tidak tertarik pada perempuan model begini. Selain itu nenek juga termasuk perempuan yang enak dipandang. Tubuh tinggi semampai, kulit terang, bibir tipis dan hidung mancung. Tutur katanya yang halus, lembut dan tersusun rapi adalah daya tarik yang lain.

Paman-paman dan bibi-bibi yang lain saling berbisik. Masing-masing mendukung salah satu dari dua pihak yang bertikai. Bibi Enyem menggeleng-gelengkan kepalanya. “Harto….Harto, hukum yang seperti apa yang kamu ocehkan? Di muka pengadilan mana pun, kamu tetap akan kalah. Lagi pula, atas dasar apa kamu berani mengatakan rumah ini merupakan hak kamu?”

Paman Harto tak kalah sengit. “Tentu! Tentu aku punya dasar. Aku tidak asal bunyi seperti kamu. Aku adalah keponakan laki-laki tertua. Ini harta warisan buyut kita Enyem, bukan harta bibi.”

“Apa maksud kamu?”

“Rumah ini bukan dibangun oleh bibi, melainkan peninggalan dari ayahnya.”

“Lalu.”

“Karena bibi tidak memiliki keturunan, berdasarkan adat, akulah yang berhak atas rumah ini. Ayahku adalah satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga.”

Mendengar penjelasan itu, Bibi Enyem justru tersenyum. “Mungkin kamu benar. Tapi kita sekarang hidup di negara hukum. Yang kamu katakan tadi adalah hukum adat, bukan hukum negara.”

“Lantas?”

“Kita tidak bisa memakai hukum adat karena rumah ini telah terdaftar atas hukum negara. Rumah ini mempunyai surat keterangan kepemilikan, yang ditandatangani oleh pejabat dari lembaga yang sah dan berkompeten.”

Paman Harto terdiam. Tampak olehku sinar matanya jadi aneh.

Separuh memendarkan kebencian, separuh lagi aku tidak tahu. Barangkali kebingungan. Barangkali juga ketakutan. Bibi Enyem sekali lagi berdiri dengan senyum kemenangan terukir di bibir. “Surat rumah ini sekarang sudah berada di tanganku. Bibi memberikannya padaku.”

Paman Harto menggeram. “Bibi tidak memberinya. Kamu merebutnya?”

“Merebut bagaimana?”

“Kamu jangan mengelak, Enyem. Aku bukan tak tahu bagaimana sepak terjang kamu selama ini. Kamu berpura-pura mengurus bibi untuk menohoknya dari belakang. Banyak harta bibi yang diam-diam telah kamu ambil!”

“Aku memang mengurus bibi, kok.”

Aku mendengarkan semua pembicaraan itu dengan perasaan tak menentu. Marah, sedih, benci bercampur kekesalan. Ingin sekali rasanya aku berteriak. Dadaku disesaki pertanyaan-pertanyaan. Mengapa Bibi Enyem mengaku begitu? Kapan ia pernah merawat nenek? Sepanjang sepengetahuanku, hanya akulah yang selama dua puluh tahun ini mengurus segala macam keperluan nenek. Mulai dari mencuci bajunya sampai menyiapkan air mandinya. Bibi Enyem memang mengirimkan rantangan setiap hari. Apakah ini yang dianggapnya sebagai “membantu” tadi? Kalau iya, sungguh keterlaluan. Sebab aku tahu, rantangan itu dibayar dengan uang nenek juga. Ia hanya mengusahakannya, kemudian mengantarkannya, tiga kali satu hari.

Lantas, suara gaduh itu terdengar kembali. Semua orang ingin bicara. Saling menuduh. Saling menyalahkan. Aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Tanpa berbicara sepatah kata pun kuangkat asbak-asbak penuh puntung rokok dan buku-buku yasin itu.

* * *

AKU masih sangat kecil ketika nenek membawaku dari tempat itu. Tempat di mana aku selama ini berjuang agar tetap bisa hidup. Tempat di mana aku mungkin dilahirkan. “Kamu sering ke sini?” selidik nenek.

Dari balik lensa, matanya yang kecokelatan menatapku dengan sungguh-sungguh tajam. Kujawab pertanyaan itu dengan anggukan.

“Orang tuamu pasti marah kalau tahu kamu sering keluyuran di tempat seperti ini,” ujar nenek lagi.

Aku menggeleng, “Aku tidak keluyuran, kok. Aku bekerja.”

Nenek tampak terperanjat. Dahinya berkerut-kerut dilipat. “Bekerja? Bekerja bagaimana?”

“Aku memanggil orang-orang dari jalan. Melambai ke arah mobil-mobil, motor-motor, bahkan para pejalan kaki untuk menepi dan singgah ke sini. Dan untuk itu mereka memberiku uang. Sepuluh ribu per kepala.”

Nenek tersentak. Dilepaskannya ia punya kacamata. “Wah! Kalau begini, orangtua kamu pasti akan lebih marah.”

Aku sekali lagi menggeleng. “Tidak. Mereka tidak akan marah. Tidak akan pernah.”

“Lho, kenapa begitu?” tanya nenek. Wajahnya benar-benar nyata terlihat seperti orang kebingungan. Tanpa lensa, tatapan matanya terasa menusuk lebih dalam.

Tapi, kebingungan nenek kubalas dengan tawa. “Ha-ha-ha…, bagaimana mau marah kalau kami anak-beranak tidak pernah saling kenal satu sama lain.”

Lalu kuingat benar bagaimana mata nenek yang luar biasa tadi langsung berkaca-kaca. Nafasnya memburu, membuat lempengan logam bulat mungil yang tergantung di bagian dada baju dinasnya ikut turun naik – nenek adalah pegawai dinas sosial. Bibirnya bergetar. Tak lama kemudian, tangannya yang berjari panjang dan berhias dua cincin bermata sudah nemplok di kepalaku – lantas membelai-belai rambutku yang panjang tak terurus dengan lembut sekali.

“Kamu mau ikut denganku?” tanyanya.

Terus terang, aku sebenarnya sudah lama memasrahkan diri pada nasib. Begitulah, aku menjalani hari demi hari dengan apa adanya. Tanpa keinginan. Tanpa impian. Keduanya sudah aku kubur dalam-dalam sekali. Jika kemudian aku menuruti ajakan nenek, itu kuputuskan tanpa pertimbangan apa-apa. Kepalaku mengangguk dengan begitu saja meski aku sama sekali tidak mengenalnya – bahkan aku tak tahu siapa namanya, berapa umurnya, kerja apa suaminya atau seperti apa nanti sikap anak-anaknya. ***

SUMBER: SUARA KARYA

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: