//
you're reading...
Cerpen

✎ SEBELUM MATAHARI MENGETUK PAGI

Leila S.Chudori

Dia tahu, saat matahari mengetuk pagi, akan ada sebuah perubahan besar. Dia tahu, ketika dia menguak tirai jendela, uraian sinar matahari bukan hanya sebagai tanda hari yang baru, tetapi juga ada nafas baru bagi dua orang di majalah Tera: Utara Bayu dan Kara Novena. Dia menatap undangan itu, undangan pernikahan Tara dan Vena.

Di balik tirai, Jakarta masih berwarna hitam. Jarum Jam menunjukkan pukul empat pagi. Satimin merasa matanya pedih. Sepanjang malam, dia tak bisa lelap. Sudah dua hari isterinya menjenguk orangtuanya di Wonosobo. Jadi dia tahu betul yang tengah menyeret sandal dan sibuk menjerang air itu adalah Halimah, puterinya yang baru saja menuntaskan pendidikannya di Akademi Komputer. Halimah…

Satimin duduk di tepi tempat tidur.

Baru saja sebulan silam, Satimin melihat cahaya di mata anaknya. Sembari tersenyum malu, Halimah memperkenalkan Rozali kepada dia dan isterinya. Rozali, yang sehari-hari bekerja sebagai satpam di kompleks perumahan mewah Golden Sun. Yang mewah adalah perumahan yang dijaganya setiap malam. Rozali sendiri adalah anak sederhana, lulusan SMA. Halimah lulus Akademi Komputer. Satimin menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Kenapa Halimah bisa jatuh cinta pada Rozali yang sekolahnya cuma sampai SMA?

Satimin ingat, dia dan isterinya dengan suara lirih dan lembut mencoba bertanya kabar Eko, putera pemilik toko material bangunan di ujung jalan Seroja. Dan Satimin ingat betul, mata Halimah yang bersinar itu mendadak redup. Dia tidak menjawab. Tidak berkata apa-apa. Dan itu cukup membuat Satimin dan isterinya tak lagi bertanya-tanya. Hanya, Satimin sempat berbisik pada isterinya, sebaiknya undang Eko untuk datang ke rumah dan bermain catur dengannya.

Satimin kembali menatap undangan itu: Utara Bayu dan Kara Novena. Dia mencium aroma kopi jahe. Halimah sudah meletakkan kopi di ruang televisi. Satimin berdiri.

***

Secangkir kopi hitam dengan parutan jahe dari jari-jari Satimin. Pak Guntur Wibisono yang sesungguhnya tidak rewel. Dia bukan pemimpin yang ingin tampak perlente. Dia bukan pemimpin yang ingin diladeni. Dia menyetir sendiri ke kantor dengan mobil Toyota Kijang yang sudah kusam; sesekali, dia mengantar anak-anaknya ke sekolah jika isterinya harus mengajar di Salemba. Dia juga tak pernah merokok, apalagi minum alkohol. Tapi ada dua, hanya ada dua hal yang harus dilakukan Satimin setiap hari untuk pak Guntur: setiap jam tujuh pagi, saat pak Guntur baru selesai lari pagi, Satimin harus menyediakan kopi jahe. Dan kopi jahe itu harus diracik oleh tangan Satimin.

Satimin bangga betul dengan posisi itu. Kopi hitam yang diseduhnya itu, diberikan parutan jahe yang dikupyur gula merah. Selagi kopi itu masih panas, Satimin akan menyerahkan secangkir kopi yang berkepul itu langsung ke tangan pak Guntur. Beliau menerimanya sembari membaca halaman pertama koran pagi. Dia akan mengangkat wajahnya, tersenyum dan menerima kopinya itu sembari mengucapkan terimakasih yang tulus. Dan itu selalu menjadi pagi yang terbaik bagi seorang Satimin yang sudah mengabdi puluhan tahun di majalah Tera.

Hal kedua, menurut ibu Delia, sekretaris pak Guntur, toples-toples cemilan pak Guntur tak boleh kosong. Adalah Satimin sendiri yang akan menggoreng empat macam kerupuk kesukaan pak Guntur.

Ini juga merupakan kebanggaan Satimin. Hanya dia yang tahu betul bagaimana menggoreng kerupuk kulit, kerupuk ikan, rengginang dan keripik tempe kesukaan pak Guntur hingga menjadi renyah dan kriuk-kriuk hingga membuat pak Guntur ketagihan. Satimin tahu betul, jika ada tamu datang, pak Guntur hanya basa-basi menawarkan toples kerupuk itu pada mereka. Biasanya wartawan Tera tahu itu makanan kesukaan pak Guntur yang tak boleh disentuh, dan mereka akan menolak dengan sopan. Tetapi ada juga satu dua tamu yang –karena tak paham dan ingin menghormati—malah melahap kerupuk ikan dan rengginang itu. Bisa dibayangkan bagaimana wajah pak Guntur itu cemberut selama pertemuan dengan sang tamu.

Pernah suatu kali, Satimin jatuh sakit. Dia sungguh tak tahu siapa yang akan menyediakan kopi jahe atau kerupuk pak Guntur. Dia betul-betul demam dan tak bisa bergerak dari tempat tidur. Akhirnya setelah empat hari absen, Satimin sudah muncul di dapur lantai delapan majalah Tera. Tiba-tiba saja dia mendengar sambutan Tara, bos wartawan di lantai tujuh. Dia bos muda yang paling baik dan ramah.

“Sudah sembuh? Sakit apa? Si Bos marah-marah terus tuh tak ada pak Satimin…” Tara tersenyum. Hanya beberapa detik, lengan Satimin sudah disambar ibu Delia.

“Ayuh, ayuh, tolong buatkan kopi jahe bapak!”

Satimin berani taruhan, ibu Delia yang manis dan berlesung pipit itu hampir saja memeluknya karena saking girang melihat Satimin sudah muncul.

“Ya ya bu…ini saya sedang rebus airnya…”

Belakangan, Satimin baru paham kenapa semua orang menyambut kedatangan Satimin. Rupanya pak Guntur uring-uringan terus karena masalah kopi jahe yang rasanya merusak seluruh semesta. Konon kopi jahe yang dibuat office-boy lainnya ada saja yang tak cocok di lidah beliau, entah kurang jahe, atau kurang gula merah, atau gula merahnya kurang diparut atau ada saja hal lain yang membuat darah pak Guntur melesat ke ubun-ubun. Pokoknya ketidakhadiran Satimin, penyelamat syaraf pak Guntur dalam bidang kopi jahe dan kerupuk empat toples itu, sudah membuat kehidupan majalah Tera porak poranda dilanda ketidaknyamanan.

Akhirnya secangkir kopi jahe itu diterima oleh dua tangan pak Guntur. Dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih yang sungguh tulus. Satimin memulai pagi itu dengan hati ringan.

***

Secangkir kopi jahe buatan Halimah tak kalah sedapnya dengan buatan ayahnya. Masih mengepul dan masih kental manis gula merah.

Satimin menghirup kopi itu dengan perasaan gundah gulana. Dia tidak tahu apakah dia gundah karena anaknya sedang kasmaran dengan seorang satpam lulusan SMA, atau dia gundah karena mengkhawatirkan sesuatu yang tidak dia pahami di antara Tara dan Nadira, dua orang yang paling peduli pada Satimin.

Dia menatap cangkir kopinya yang kini sudah tinggal setengah. Kopi jahe memang memiliki banyak sejarah….

***

Jakarta, 1990

 

Satimin tak paham ekonomi. Tidak paham efisiensi. Tidak paham grafik yang digambar oleh ibu Nella di atas papan tulis putih itu. Demikian juga Odi, Ahmad, Kosim dan empat office-boy yang sudah bekerja di majalah Tera bertahun-tahun. Mereka duduk berderet di ruang Sumber Daya Manusia untuk sebuah pertemuan penting. Tetapi Satimin sama sekali tak paham apa yang ditulis oleh ibu Nella.

 

Tetapi setelah ibu Nella mengucapkan PHK, barulah Satimin tersedak. PHK? Efisiensi? Pesangon?

 

“Intinya, ini justru penghargaan untuk kalian semua, karena kalau kalian terus bekerja di sini, maka kalian akan terus menerus menjadi office boy. Itu sebuah dead-end job…”

 

Satimin berpandangan dengan Odi, Ahmad dan Kosim.

 

“Ded apa bu?”

 

“Jadi begini….” Nella meletakkan spidolnya, “kan pak Satimin, pak Odi, pak Kosim pasti suatu hari mau lebih maju kan? Tidak mau jadi Office Boy terus kan?”

 

Mereka mengangguk perlahan, setengah tak paham.

 

“Bu Nella mau kasih kami pekerjaan lain?”

 

“O, bukan. Kami akan membebaskan kalian dari perusahaan ini, agar kalian bisa memilih pekerjaan yang lebih mulia daripada office-boy. Kalian akan mendapat pesangon yang sangat pantas.”

 

Satimin terperangah, “kenapa bu? Yang bikin kopi jahe pak Guntur nanti siapa?”

 

Nella tersenyum memegang bahu Satimin, “jangan khawatir. Kami akan menyewa perusahaan office boy cleaning service profesional.”

 

Dahi Satimin mengkerut. Odi dan Kosim masih terperangah.

 

“Perusahaan klining serpis….?” Ahmad terbata-bata.

 

“Begini,” kata Nella mencoba sabar, “kantor ini sudah semakin besar. Kami perlu pelayanan yang cepat dan sigap dan yang professional. Jadi….”

 

“Tapi saya masih muda dan sigap, bu!” kata Odi memburu.

 

Nella tersenyum, “Betul Di, tapi kalau Odi mau tetap bekerja sebagai Office Boy, ya melamar saja ke PT Damai Sejahtera, nanti kantor ini urusannya dengan perusahaan itu.”

 

Keempat office-boy itu terdiam.

 

***

Cangkir kopi itu sudah kosong. Terdengar suara adzan yang mengusap-usap telinganya. Satimin berdiri menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Begitu Satimin selesai mengucapkan salam, dia tiba-tiba merasa dirinya tak lagi berada di tahun 2001; dia merasa terlempar ke masa lalu ketika dia berada di dalam rangkaian salat yang dilakukannya berulang-ulang setelah pertemuan dengan Nella beberapa tahun silam.

Satimin tak tahu apa yang harus dilakukan selain salat meminta petunjuk kepada Gusti Allah. Semula Satimin menjadi imam sementara Odi, Kosim dan Ahmad menjadi tiga makmum yang bertubuh lunglai. Ketika Kosim menangis tersedu-sedu di atas sejadah selesai memberi salam, Satimin buru-buru memeluk bahu Kosim yang sudah seperti puteranya sendiri itu.

 

Satimin tidak paham jalan lain selain melakukan salat terus menerus. Tiba-tiba saja, dia mendengar anak-anak redaksi di lantai tujuh mengadakan rapat-rapat yang isinya protes terhadap tindakan PHK keempat office-boy itu. Satimin sungguh terkejut, dan juga tidak enak.

 

Mas-mas dan mbak-mbak redaksi di lantai tujuh sungguh galak jika sedang protes pada manajemen; terutama mas Andara dan mas Yosrizal. Suara kedua wartawan itu seperti dua ekor harimau yang meraung yang ingin melahap orang hidup-hidup. Satimin dan Kosim sempat mengintip ruang rapat itu, pura-pura membawakan kopi panas, Ternyata mereka memang sedang merancang strategi untuk mengadakan pertemuan dengan pihak manajemen. Satimin semakin tidak enak hati karena dia bisa membaca namanya dan ketiga rekannya ditulis sebesar-besar anak gajah di papan tulis putih itu. Apalagi dia melihat mas Tara bertolak pinggang sambil menulis di papan tulis, sementara Nadira mencatat entah apa dengan penuh semangat. Satim semakin meringkuk. Waduh. Apa kata pak Guntur nanti? Apa pak Guntur nanti marah padanya, karena menyangka dia begitu cengeng mengadu pada mas Tara, non Nadira, mas Andara dan mas Yosrizal?

 

Satimin keluar perlahan dari ruang rapat itu. Dia tak tahu apakah dia harus bangga atau sedih melihat dia dan kawan-kawannya menjadi topik penting dalam rapat akbar redaksi yang tampak begitu riuh rendah dan bergelora itu. Dia bahkan tak mengerti kenapa mas Andara mengepal tinjunya dan berteriak: ”Hidup OB!” Lha, mereka semua kan memang masih hidup? Ndak ada yang mati, to?

 

Satimin jadi betul-betul khawatir. Bagaimana jika pak Guntur salah paham dan menyangka dia ada di balik itu semua? Satimin lebih baik dipecat daripada pak Guntur menyangka dia seorang pengkhianat.

 

Buru-buru Satimin meletakkan nampan dan berlari menuju ruang pak Guntur. Kosong. Dia menghampiri meja Delia.

 

“Bu Delia…”

 

“Eh, pak Satimin….”

 

“Maaf bu….pak Guntur ke mana ya….saya…saya ingin ketemu.”

 

“Looo, kok pak Satimin lupa, kan Bapak ke New York.”

 

“Oh iya…” tiba-tiba Satimin baru ingat, sejak kemarin dia libur dari tugas rutin menyeduh kopi jahe. Entah karena bingung atau tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Dia melihat empat toples itu. Kalau toples itu tidak segera dimakan, pasti akan segera melempem. Kasihan pak Guntur.

 

Geruwalan Satimin menuju dapur dan kembali dengan setumpuk kertas minyak di tangannya. Dia segera melapisi kertas minyak pada setiap tutup toples kerupuk pak Guntur, agar kerupuk kesayangan beliau tetap renyah dan tidak melempem. Dari luar, Delia memperhatikan dengan heran.

 

“Pak Satimin….”

 

“Ya bu…kalau tidak ditutup kertas minyak, nanti melempem bu. Bapak suka jengkel kalau kerupuknya tidak kriuk kriuk..” Pak Satimin berbicara sambil menyembunyikan kedua matanya.

 

“Pak Satimin, Pak Guntur masih lama kembali dari New York. Kemungkinan beliau sebulan di sana. Kerupuknya dibawa ke lantai tujuh saja, kasih anak-anak. Tidak bakal kuat disimpan selama itu,” kata ibu Delia mendekati Satimin.

 

“Oh…sebulan, lama sekali yak…ada rapat apa di sana, lama betul bu?”

 

“Bukan rapat. Opera pak Guntur mau dipentaskan di sana.”

 

Satimin mengejap-ngejap matanya yang terasa agak pedas. Dia tak berani bertanya arti opera, karena ibu Delia nampaknya sudah terlihat sibuk dan mulai cemberut. Buat Satimin, kata “opera” terdengar penting sekali.

 

Satimin mengangguk-angguk sembari menyembunyikan airmatanya yang hampir jatuh. Dia bergegas mengangkut kertas minyaknya dan permisi keluar dari ruang pak Guntur. Delia mendadak merasa dirinya keji. Dia memanggil Satimin.

 

“Saya sudah dengar keputusan manajemen,”kata Delia, “Kenapa pak Satimin tidak sekalian bergabung dengan perusahaan cleaning service saja,” Delia tiba-tiba merasa bisa membantu.

 

“Oh….” Satimin menelan ludah, “sudah saya tanya bu, katanya mereka hanya menerima yang usianya 18 sampai 25 tahun saja. Mungkin Kosim dan Odi bisa gabung dengan mereka.”

 

“Oh…”

 

Delia terdiam.

 

“Saya yakin akan ada jalan keluar….” katanya mencoba menghibur. “Saya dengar mas Andara dan mas Yos sedang menyusun ulang corporate strategy.”

 

Satimin kembali mengangguk-angguk, meski dia tak paham apa arti kata ……………apa itu, susah sekali mengucapkannya. Mungkin itu artinya uang pesangon. Satimin permisi. Dia berjalan menuju dapur dengan setumpuk kertas minyak di tangannya. Di dapur, dia duduk di pojok dapur. Sendirian.

 

Dia tak tahu berapa lama dia tertidur di pojok itu, mungkin sejam. Mungkin dua jam. Mungkin dua malam. Dia sungguh tak tahu. Hingga akhirnya dia merasa ada yang menepuk bahunya dengan lembut. Satimin gelagapan.

 

Nadira.

 

Nadira tersenyum mengaduk-aduk secangkir kopi hitam lalu menyodorkannya pada Satimin. Satimin merasa sungguh sungkan dan malu dan mengusap-usap wajahnya.

 

“Minum pak…”

 

“Kok Non…”

 

“Ayo, kopi selalu bikin lebih segala sesuatu lebih enteng….” Tiba-tiba Nadira tertawa, “sebetulnya tidak. Tapi, sudahlah, ayo minum….”

 

Dengan patuh Satimin menghirup kopi itu. Agak aneh rasanya. Ada susu. Manis sekali. Ini memang kopi milik Nadira dari luar negeri.

 

“Suka pak?”

 

Satimin mengangguk, menelan kopi itu dengan berat dan mengusap-usap mulutnya. Sebetulnya tidak enak. Ini susu dengan kopi atau kopi dengan susu? Tapi bagi Satimin, kopi itu kopi terenak di dunia karena diberikan oleh seseorang yang begitu perhatian padanya.

 

Nadira duduk ngedeprok di sebelah Satimin. Satimin semakin sungkan.

 

“Nanti celana mbak Dira kotor,”

 

“Tidak apa, pak….”

 

“Pak Satimin, saya minta pak Satimin percaya pada kami. Kita semua sedang membicarakan masalah Pak Satimin dan office Boy lainnya dengan Dewan Karyawan. Jadi Pak Satimin tidak boleh berduka. Tidak boleh sedikitpun meneteskan airmata. Tidak boleh lemah. Tidak boleh rontok barang satu tulang tubuh. Tidak boleh ringkih.”

 

Satimin kembali mengangguk-angguk meski dia tak terlalu paham maksud Nadira. Pastilah maksudnya jangan cengeng. Tapi Non satu ini memang bahasanya seperti bahasa orang yang sedang berdeklamasi, sehingga sering terasa rumit. Dia adalah wartawan yang baru setahun bergabung dengan majalah Tera. Dia tak banyak bicara; tak banyak bergaul, tapi jelas dia sangat senang bekerja. Dan Satimin tahu betul, mas Tara sangat rajin membuatkan kopi untuk Non Nadira. Satimin juga bisa melihat betapa mata mas Tara bercahaya setiap kali membawakan minum untuk Nadira.

 

Jadi jika Nadira mengatakan Satimin tak boleh cengeng, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak cengeng; jika Nadira mengatakan tulangnya tidak boleh rontok, Satimin akan memastikan dia tidak akan sakit pinggang atau encok. Jia Nadira mengatakan tidak boleh meneteskan airmata, pastilah Satimin akan menahan diri sekuat tenaga untuk menahan bobolnya airmata. Pasti dia bisa.

 

“Lihat mata saya, pak. Kalau penuh semangat seperti ini, insya Allah usaha kita akan berhasil.”

 

Satimin betul-betul mematuhi perintah Nadira. Dia melihat ada serangkaian sinar yang terurai dari kedua bola mata Nadira. Dan Satimin paham, Nadira tengah mengatakannya dengan jujur: dia, seperti juga Andara, Yosrizal dan Utara bersemangat membela Satimin dan kawan-kawannya.

 

Ketika akhirnya manajemen menyetujui tuntutan karyawan untuk mempertahankan keempat office boy itu—dan mengangkat mereka sebagai karyawan majalah Tera—Satimin segera melakukan satu hal yang paling dia pahami. Berterimakasih kepada Tuhan. Dia salat begitu lama.

 

Hal berikutnya yang dia lakukan adalah: berterimakasih kepada rekan-rekan redaksi yang galak-galak namun berhati baik itu. Satimin, Odi, Kosim dan Ahmad beramai-ramai membuatkan kopi jahe untuk seluruh warga lantai tujuh.

 

****

 

Bagi Satimin, segalanya sederhana saja. Tara dan Nadira seharusnya berjodoh. Bukankah Mas Tara selalu baik dan perhatian pada Nadira, dan bukankah Nadira nampaknya juga hanya percaya pada Mas Tara?

 

Tetapi Satimin juga percaya bahwa Gusti Allah sering menentukan hal-hal yang tak begitu dipahami manusia biasa. Misalnya kenapa dia dan ketiga rekannya hampir saja di PHK, lalu batal, tapi malah dijadikan karyawan setelah protes galak mas-mas redaksi. Satimin juga tak paham kenapa ibunda Nadira suatu hari, kabarnya, bunuh diri dan membuat Non Nadira bergelung di bawah kolong meja bertahun-tahun, hingga Satimin tak pernah bisa berbuat apa-apa. Bahkan bergalon-galon kopi jahe pun tak akan menyembuhkan hati Non yang baik hati itu. Satimin lebih tak paham lagi ketika ternyata Gusti Allah menjodohkan Nadira dengan lelaki lain. Bukan mas Tara yang baik hati itu. Masya Allah.

 

Kini Satimin duduk dengan hati duka. Dia mengaduk-aduk kopi itu, memarut-marut jahe dan mengucurkan gula merah.

 

“Untuk saya, Min?”

 

Astaga. Pak Guntur. Tumben amat Bapak Bos ke dapur.

 

“Untuk mas Tara, pak. Tapi ambil saja pak, nanti saya bikin yang baru buat mas Tara.”

 

“Kok tumben untuk mas Tara?”

 

Satimin terdiam. Dia melirik pada sehelai undangan pernikahan yang ditempel di dinding dapur: Nadira Suwandi dan Niko Yuliar. Guntur Wibisono segera menangkap sekejap pandangan mata Satimin.

 

Lalu dia memandang secangkir kopi jahe kesayangannya itu. Panas mengepul dengan aroma yang membangunkan syaraf kehidupannya. Dia tersenyum.

 

“Kasih Utara saja, Min. Nanti bikinkan saya yang baru.”

 

Satimin tersenyum.

 

Segelas kopi jahe itu diterima oleh sepasang hati yang terluka. Utara Bayu.

 

“Terimakasih.”

 

Satimin mengangguk dan memandang Nadira dari kejauhan yang sedang beberes karena sudah dijemput calon suaminya. Gusti Alah pasti punya maksud yang kita tak pahami. Demikian Satimin menghibur dirinya.

 

***

 

Di balik tirai, Jakarta tak lagi pekat. Matahari sudah mengetuk pagi dan mengetuk hati Satimin. Satimin bisa melihat beberapa untai sinar matahari yang menyelip. Jadi inilah hari Utara Bayu dan Kara Novena membuhulkan hubungan mereka. Sembari mengenakan batiknya, Satimin terus berdoa agar mas Tara berbahagia dengan pilihannya.

 

Lepas Zuhur, Satimin sudah kembali dalam keadaan berkeringat dan lelah. Dia duduk di teras muka rumahnya dengan wajah kuyu. Halimah segera membuatkan es teh tawar. Siang itu, matahari seperti mengibas-ngibaskan sinarnya hingga membuat warga bumi menggelepar.

 

“Bagaimana mas Tara dan mbak Vena, pak?” Halimah duduk di depan bapaknya yang tampak kalah oleh keringatnya sendiri. Dia terus menerus mengusapnya dengan handuk kecil.

 

Satimin mereguk es teh tanpa gula itu sekali teguk. Habis. Halimah terperangah.

 

“Ramai sekali, nak….”

 

“Ya pasti…bapak kan pernah bilang, mas Tara wartawan istana.”

 

“Yah….dia banyak teman juga, nak. Dan keluarganya besar sekali. Keluarga sugih.”

 

Halimah mengangguk. Dia sudah mau berdiri, tapi bapaknya menyuruh dia duduk kembali.

 

“Halimah, ibu pulang besok. Lusa, ajak Rozali ke sini…”

 

Halimah terperangah. “Bapak mau apa?”

 

“Bapak mau main catur sama dia. Kamu masak apa saja yang enak. Atur dengan ibu.”

 

Halimah terdiam. Dia memandang ayahnya. Masih bertanya.

 

Satimin menghela nafas. “Tadi Bapak menghadiri pernikahan mas Tara dan mbak Vena. Ramai. Ramai sekali. Bapak menyalami mereka. Dan Bapak bisa melihat mata mas Tara….”

 

“Kenapa mata mas Tara?”

 

“Matanya….seperti kehilangan cahaya”

 

Satimin menggeleng, ‘Bapak tidak mau melihat matamu seperti itu di hari perkawinanmu. Yang namanya pengantin, harus bercahaya…..”

 

Perlahan-lahan senyum Halimah mengembang. Dia mengangguk dan meninggalkan ayahnya.

 

Satimin masih duduk sendirian. Dia menyenderkan punggungnya yang terasa berantakan sembari bertanya-tanya, kemanakan Nadira kini. Apakah dia masih jauh di luar negeri atau dia sudah di Jakarta? Apakah Nadira tahu bahwa hingga kini, hingga hari perkawinan Tara, tampaknya namanya masih saja bertahta di hati Tara?

 

 

(dimuat di Femina Edisi Khusus Kartini, April 2010)

Jakarta, 2010

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: