//
you're reading...
Cerpen

Cerita Cangkir

Aku punya kisah yang kudengar dari secangkir kopi pada sebuah kedai kecil di sudut jalan. Tempat mungil itu jauh dari kebisingan dan kesibukan orang-orang berlalu lalang di daerah perbelanjaan yang berada tepat di tikungan jalan yang sama. Aku sedang membaca koran ketika aku mendengar suara gemeretek dan desau lirih suara itu.

Mulanya aku pikir suara itu berasal dari sepasang kekasih yang sedang berasyik masyuk di sampingku. Aku hampir mengacuhkan segalanya jika mejaku tidak tersenggol pinggang orang dan membuat cangkir kopiku bergetar hebat.

Mendekatlah kemari, ucap si cangkir kopi bagai menyanyi. Koran yang ada di peganganku nyaris terlepas. Matahari berada di ujung jari langit terpeleset sudah, melejit semakin ke arah barat. Malam sebentar lagi luruh. Aku masih berpikir daripada bertindak, kukira itu hanya gema angin.

Membungkuklah, tutur si cangkir kopi ngotot. Suaranya lirih dan tipis. Jangan membelalak ke kiri dan kanan. Kamu terlihat bodoh.

Koran sore tak segar lagi dalam genggamanku. Aku merapatkan telingaku ke atas meja, karena dari sanalah suara itu berasal. Lantas aku mendengar sepenggal dongeng yang kisahnya lebih layu daripada bunga yang telah tercampak ke tanah.

Leirissa dan Nikolai, perempuan dan lelaki yang memetik bintang.

Sampai langit temaram aku mendengar cerita si cangkir kopi. Kisah ini kutulis ulang untuk kuceritakan padamu…

& & &

Alkisah, semuanya bermula pada saat warna langit bergradasi orenye biru terang. Daun-daun kuning yang berbujur seperti kristal luruh di sepanjang jalan.

Leirissa nama gadis itu, turun dari bus di depan gedung tinggi bergaya ultramodern. Wajahnya riang, air mukanya cerah. Rambutnya wangi dan bajunya trendi. Usianya baru dua puluh dua lewat satu bulan. Benaknya dipenuhi idealisme dan kepolosan masa muda. Pagi ini dia hendak mendapat panggilan wawancara pekerjaan pada law firm.

Leirissa menjilat bibirnya, menelan ludahnya, dan menggaruk lengannya ketika melihat kantor pengacara di lantai tiga puluh dua. Begitu megah seperti istana. Begitu mewah mebel, plakat, dan karpetnya. Hatinya terintimidasi.

Siang ketika matahari berlarian menuju puncak langit, Leirissa bertemu dengan Nikolai, awal dari kisah ini. Nikolai, sang pewawancara, pengacara berusia empat puluh lima, jatuh dalam pesona perempuan muda itu. Terlupakan istri jelita tanpa cacat cela di rumah. Istri yang telah lima belas tahun dinikahinya, terikat oleh sumpah sehidup semati hanya dengannya. Istri yang payudaranya telah merosot karena menyusui kedua bayinya yang kini telah tumbuh menjadi dua remaja tampan dan cantik. Istri yang rambutnya harus di-highlight dengan warna burgundy karena tiap helainya telah kehilangan kilat warna oleh usia. Istri yang mempunyai lapisan kerut di setiap ujung mata, bibir, dan pipi karena telah belasan tahun melewati malam-malam panjang menunggui anak-anak mereka yang sakit.

Hati Ruth pasti robek jika menyaksikan episode ini.

Siang itu, Leirissa juga merasakan debur yang sama. Ada lubang hitam di ruang pertemuan ini, mengisapnya menuju jantung Nikolai. Di sana mereka bertemu, saling menyapa dan berkenalan tanpa dibungkus basa-basi dan rasa cemas atas mata-mata orang lain yang menghujat. Jutaan helai bunga berwarna pink, pelambang cinta melayang bagai hujan, memenuhi rongga hati Leirissa dan Nikolai, mengantar mereka kembali ke rumah masing-masing.

Aku nggak tahan ingin selalu bertemu denganmu. Kamulah cahayaku. Kamulah helaan napasku.

Sejak saat itu, Nikolai jadi senang berbohong kepada istrinya. Dia jadi sering terlambat pulang. Alasannya beraneka rupa. Mulai dari meeting dengan klien penting, dinner bersama pejabat, bahkan melakukan kunjungan luar kota untuk alasan bisnis. Seakan-akan kesibukan kantornya menyantapnya hidup-hidup tanpa belas kasihan. Segera, keluarga pun menjadi terabaikan.

Ruth selalu percaya pada Nikolai. Dia percaya pada suaminya karena sebagian hati Nikolai dibawa di dalam hatinya sejak belasan tahun yang lalu ketika Ruth menikahi Nikolai. Kasih sayangnya kepada suaminya tidak pernah takluk oleh usia. Rasa setia serta loyalitasnya sebagai istri tidak pernah menua. Bagi Ruth, Nikolai adalah keabadiannya.

Hari pun berlalu. Hati Nikolai pun perlahan mulai tersobek-sobek melihat Ruth tak mampu melihat atau tak ingin percaya untuk melihat suami yang dinikahinya bukanlah suami yang sama lagi. Dia menjadi benci pada tangannya yang dahulu pernah membuai dan mengusap lembut punggung bayi-bayinya. Kini tangan ini berlumur darah dari luka hati Ruth yang tak pernah bermuara ke mana pun.

Dan kisah selalu mempunyai sisi koin yang berbeda. Keadaan yang terjadi pada Leirissa adalah kebalikannya. Perempuan yang berjiwa sehalus sayap kupu-kupu benar-benar terperangkap dalam labirin cinta. Tiap malam dia memintal doa agar diberikan jalan keluar terhadap kebuntuan nasibnya. Lagi-lagi Tuhan hanya sekadar sosok samar-samar yang terkadang terlihat terkadang lenyap. Malah pada beberapa minggu selanjutnya, bayangan Tuhan telah habis menguap sampai tetes terakhir. Tuhan telah mati.

Leirissa bilang dia akan menunggu Nikolai, kapan pun Nikolai siap. Nikolai bilang dia akan menunggu Ruth, kapan pun Ruth siap menerima Leirissa. Tapi Ruth tidak pernah tahu dan tidak pernah siap. Nasib akhirnya dipahat sudah. Ketika bulan retak separuh, tanpa diberi secuil firasat, Ruth meninggal di tangan seorang sopir kelelahan yang berusaha mati-matian mengendalikan truk raksasanya, menabrak mobil kecil di pinggir jalan tol. Kepala Ruth pecah berhamburan di depan setir, jantungnya terkoyak oleh benturan, dan kakinya kaku bagai batu.

Nikolai serasa mati bersama kematian Ruth. Dia ingin melakukan apa saja asalkan Ruth dapat dikembalikan kepadanya. Upacara kematian terasa sangat pahit dengan kehadiran Leirissa di antara puluhan sahabat dan keluarga yang mencintai Ruth. Hati Nikolai pecah berhamburan, berharap apa yang dia telah lakukan di masa Ruth hidup tidak menggelisahkan istrinya pada tidur panjangnya.

Leirissa juga merasakan kegetiran yang sama. Lihat! Lelaki yang dicintainya mati-matian sedalam tulang sumsumnya sedang berdiri layu di samping jasad istrinya yang telah dingin. Ke mana angin akan membawa hatinya? Leirissa ikut menangis tersedu-sedu ketika tubuh Ruth ditanamkan di perut bumi. Orang-orang mengira dia adalah sahabat Ruth yang menangisi kehilangannya. Padahal Leirissa tidak menangis untuk Ruth; dia menangisi hidupnya yang tak pernah akan sama lagi dengan yang dulu.

Esoknya, belum genap 24 jam Ruth dipeluk tanah, Nikolai mencari penghiburan di dada Leirissa. Hati Nikolai semakin pecah melihat air muka pengharapan perempuan itu. Tidak, tidak akan ada pernikahan dalam waktu dekat, demikian Nikolai berkata murung. Keluarga mereka tidak akan mungkin menerima kehadiran perempuan muda berusia dua puluh dua tahun, hanya terbentang enam tahun dengan anak lelakinya. Apalagi setelah kematian Ruth yang tragis.

Leirissa masih terlalu muda untuk sanggup mengelakkan keinginan-keinginan yang sedari dulu diam-diam diimpikannya. Dia menginginkan pernikahan; dia menginginkan kehamilan; dia menginginkan anak. Hal-hal normal yang sangat biasa. Hatinya remuk membayangkan kemungkinan itu tidak akan pernah ada. Dia tidak kuat menanggung gelora cinta yang datang bagai angin puyuh, mengobrak-abrik keutuhan hatinya.

Nikolai pun merasakan luka yang sama, luka yang dirasakan oleh Leirissa. Tapi seandainya dia adalah Nikolai yang dulu; Nikolai dari masa muda tentu dia dapat merajut kembali hati Leirissa yang robek. Tapi hari seakan tak pernah tua, dan Nikolai sebaliknya. Dia tak sanggup berjalan beriring bersama kemudaan waktu. Bagai penyihir, waktu telah mengubahnya menjadi lelaki yang putus asa. Lelaki yang telah kehilangan separuh jiwanya. Lelaki yang terpincang-pincang berusaha melanjutkan hidupnya.

Katakan apa keinginanmu, Sayang, akan kukabulkan. Apa saja, asalkan jangan pernikahan. Nikolai tulus dengan perkataannya.

Aku ingin memetik bintang. Demikian jawan Leirissa seraya memandang langit.

Nikolai tertegun, tapi buru-buru menuntaskan jawaban, Jika itu yang kau inginkan, kau akan dapatkan.

Leirissa tahu, jawaban itu adalah jawaban yang tergesa, yang diucapkan tanpa berpikir lebih dalam daripada makna sesungguhnya. Tapi bukankah lebih indah mendengarkan sesuatu yang ingin kita dengar? Maka Leirissa tertawa sambil merebahkan kepalanya di dada Nikolai yang lapang. Biarkan dada itu menjadi dermaga istirahat terakhirnya.

Sambil membelai rambut hitam harum dan halus itu, hati Nikolai bergetar. Dia tahu, mereka berdua takkan pernah punya masa depan. Masa depannya sendiri telah mati bersama Ruth.

Ruth, hidupku telah kuberikan padamu selama lima belas tahun.

Jika memang dia dapat memetik bintang untuk Leirissa, maka dia akan mati-matian untuk mendapatkannya.

& & &

Ufuk langit merah membara, seakan ada pertarungan sengit di tengah para dewa. Kereta yang ditarik empat ekor kuda yang membawa Helios, dewa matahari, belumlah lagi muncul di ujung cakrawala. Eos, pembuka gerbang surgawi untuk melepaskan kereta Helios juga belum siap dengan cipratan tinta merah mudanya, melukis langit pagi.

Leirissa sudah berdiri di atas gedung tertinggi. Kepalanya tegak lurus ke angkasa, mencari sesuatu. Malam belum larut benar di gelas raksasa galaksi. Bulan masih berada di pojok terjauh langit. Bintang-bintang semakin meredup cahayanya, seperti senter yang kehabisan baterai.

Bintang itu yang ingin kupetik. Leirissa menggenggam tangan Nikolai erat-erat.

Nikolai mendekatkan wajahnya kepada wajah yang berada di depannya. Wajah itu terasa lumer di tangannya. Wajah yang lembut; wajah yang lebih muda daripada usia waktu. Wajah yang berlumur madu dan decakan manis gulali.

Aku mencintaimu sampai rasanya nyaris mati.

Leirissa berdiri di depan Nikolai, merekam setiap kerut di sudut bibir, setiap kedipan mata, dan setiap tarikan napas. Kalimat yang diucapkan oleh Nikola membuat sekujur tubuhnya gemetar hebat. Dua bulir air mata terlepas sudah dari kungkungannya, bebas mengalir menjadi sungai kecil, membelah pipi karamelnya. Rambut hitamnya yang tadi pagi dicuci bersih-bersih, dibubuhkan wewangian bunga dan buah, beterbangan serampangan tertiup angin.

Aku mencintaimu sampai napasku habis.

Waktu bersetubuh dengan jam. Tiba-tiba telah pukul enam pagi. Langit dilapisi bayang kabut berwarna perak. Leirissa menggandeng tangan Nikolai, berjalan menuju bibir gedung. Jantung Nikolai berdentang riuh seperti suara bel pada puncak menara. Mereka berdiri berdekatan, saling melekat erat. Jauh di bawah telapak kaki mereka, jumlah mobil bertambah.

Aku ingin seperti Daedalus, sanggup terbang melarikan diri dari penjara Raja Minos.

Leirissa tertawa. Kita adalah Icarus, putra Daedalus yang ingin terbang memetik bintang.

Icarus ingin mengambil matahari, my dear.

Oh iya, kamu benar! Leirissa menutup mulut dengan tangannya. Nikolai tak sanggup melihat binar kepolosan wajah Leirissa. Dikecupnya kening itu lembut. Mereka berdua saling berpandangan. Ada cerita di balik mata mereka masing-masing. Deretan kisah yang takkan pernah siap panggang.

Pernahkah kau membayangkan kehidupan macam apa seandainya kau bisa memilih atau mempunyai kesempatan? Inilah kehidupan yang takkan pernah dilayari oleh kedua pasang kekasih, Leirissa dan Nikolai.

Pernikahan mereka sangat indah. Penuh lautan bunga dan ucapan selamat. Kue tar menjulang dengan krim gula berlimpah. Gaun pengantin Leirissa adalah gaun yang terhalus, terlicin, dan teranggun yang pernah dikenakan oleh siapa pun. Mereka berdansa pada penutupan pernikahan. Pipi mereka bersatu seperti cinta mereka.

Pada tahun pertama pernikahan, Leirissa mengandung anak pertama. Bayi gemuk montok dilahirkan sembilan bulan kemudian, memberkahi pasangan ini. Bayi yang sehat dan tumbuh cerdas dengan cepat, bagai kelopak bunga kembang sepatu yang mekar pada pagi hari. Mereka menamainya Hermes.

Pada tahun ketiga, Leirissa melahirkan bayi keduanya, bayi perempuan yang manis, bentuk feminin dari wajah Nikolai. Bayi yang tenang, tak menangis sepanjang malam pada empat puluh hari pertamanya. Nikolai meminta Leirissa untuk memikirkan nama yang cocok bagi malaikat kecil mereka. Leirissa memberi nama Devi kepada putri kecilnya. Devi yang diambil dari Mahadevi, bentuk feminin dari mahadewa.

Tahun-tahun berkelebatan, membawa kedua bayi tumbuh besar. Akar mereka kokoh menghujam ke tanah, sayap mereka terbang bebas meniti angin. Akhirnya waktu menggendong pasangan kekasih ini pada tahun kelimapuluh lima pernikahan mereka. Pada pagi yang sama ketika mereka melompat dari gedung, Leirissa dan Nikolai duduk berdampingan di beranda, menikmati hujan daun-daun berwarna emas dari ujung ranting. Saling bercakap, membelai, dan menyentuh tubuh keriput dan rambut keperakan mereka.

Nikolai menggamit lengan Leirissa. Penggalan kisah pada pendar mata memudar seperti sumur yang mengering. Mereka bergeser perlahan dengan tumit, menjauhi gedung.

Terima kasih karena aku dapat merasakan cinta yang berkilau ini.

Terima kasih karena kamu memberiku segenggam usia muda dan kasih sayang yang berlimpah.

Jemari Nikolai mendekat ke arah bibir Leirissa, mengusapnya lembut. Merebut literan kebahagiaan yang menetes dari sana. Leirissa menutup mata, hatinya berbuncah menjadi taman mawar. Nikolai mendekatkan wajahnya ke telinga kekasihnya, membisikan seuntai kalimat.

Aku mencintaimu, Leirissa.

Aku juga mencintaimu, Nikolai. Hanya dirimu.

Dan mereka berdua melompat dari lantai teratas gedung. Mereka berciuman sementara tubuh mereka melayang ringan di atas langit. Bagai sepasang tissue.

Inilah bintang yang kupetik untukmu, matahariku.

& & &

Cangkir kopi telah selesai bercerita. Tak ada suara lagi yang keluar, hanya terdengar dengusan lirih. Mungkin cangkir itu sedang menangis, sama seperti aku. Pipiku telah dialiri puluhan tetes air mata. Sore telah bertekuk lutut kepada malam. Hanya aku yang masih setia duduk di bangku kedai kecil ini. Yang lain adalah orang-orang baru yang sedang menikmati gaya hidup mereka. Gaya hidup yang dikemas dalam cangkir.

Calliope, ada seribu cerita yang dapat kubisikkan padamu. Cerita-cerita yang kudengar dari celoteh orang-orang yang duduk mengelilingi meja bundar ini. Cerita-cerita dari kota antah berantah, dari negeri berwarna merah jambu, dari ujung langit terhitam pada arah barat daya. Calliope, esok hari datanglah kemari demi secangkir kopi dan sepotong cerita baru.

Aku berdiri perlahan. Kuusap cangkir berwarna biru itu, sebiru langit pagi saat pasangan kekasih itu bersatu. Malam itu, ketika sinar bulan larut bersama awan malam, aku melangkah menjauhi kedai sambil memalingkan wajah di tengah lautan manusia. Tak ada yang boleh tahu, mataku masih sembab, dan hidungku penuh ingus. Besok, aku akan kembali dan mendengarkan cerita baru yang akan dikisahkan oleh si cangkir kopi. Cangkir memang lebih peka daripada hati. Cangkir memang mampu mendengar daripada telinga.

Sumber :

Dipublikasikan di koran Tempo, 3 Desember 2006

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: