//
you're reading...
Dongeng

Asal Mula Kunang Kunang

DAHULU, kunang-kunang belum ada di dunia ini. Jadi kalau malam tiba dan bulan tidak bersinar, dunia ini gelap sekali. Tersebutlah seorang putri dari kerajaan Cyera, bernama Putri Helena. Ia adalah seorang putri yang sangat cantik, lemah lembut dan baik hati. Ayahanda Raja sangat menyayanginya.

Kecantikan Putri Helena termashur ke mana-mana. Banyak pangeran putra mahkota kerajaan-kerajaan di Eropa melamarnya. Tapi tak seorang pun yang berkenan di hati sang Putri. “Mohon maaf, Ayahanda. Saya menolak mereka sebab mereka tidak punya hati yang bersih. Mereka ada maksud tertentu dengan melamar saya. Mereka ingin menjadi raja dari Pulau Elba ini. Bukankah dengan perkawinan saya, Pulau Elba nanti akan masuk menjadi jajahan kerajaan suami saya?”

Terbersitlah ide di hati sang putri untuk mengadakan sayembara. “Siapa yang bisa menebak teka-teki saya, maka dialah yang berhak menjadi suami saya,” ujar Putri Helena.

Beberapa hari kemudian, berdatanganlah para putra raja dari berbagai negara tetangga. Mereka ingin mengikuti sayembara itu. Rakyat Pulau Elba turut menyaksikan perlombaan yang berlangsung di balairung istana. Para putra raja semuanya sudah siap mendengarkan teka-teki yang hendak diucapkan oleh Putri Helena.

“Nah, dengarkanlah baik-baik, para putra raja yang gagah rupawan dan cendikia. Teka-teki saya adalah berbunyi demikian: Kalau siang ia tak tampak. Kalau malam jasanya banyak. Pelita manusia dalam kegelapan. Berkilau tak berpangku tangan. Nah, macam apakah itu, Tuan-tuan?”

Semua peserta sayembara mulai memeras otak. Waktu yang disediakan cuma 15 menit. Sampai waktu yang disediakan hampir habis, tak seorang pun yang mengangkat tangannya tanda telah menemukan jawabannya. “Waktu sudah habis Tuan-tuan, Tuan-tuan diminta menunggu di luar balairung,” kata salah seorang petugas membacakan pengumuman.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda yang berlari kencang. Ternyata yang datang adalah putra raja Viking. Ia bernama Pangeran Odra. “Maaf, Tuan terlambat,” kata petugas.

“Sekalipun aku terlambat, itu bukan kemauanku. Tapi aku harus ikut sayembara. Ucapkanlah sekali lagi teka-teki itu,” pinta Pangeran Odra.

Tetapi Putri Helena tidak gentar dengan ancaman itu. Ia tetap kokoh pada pendiriannya. Ia ingin bertindak adil. Apabila ia memenuhi permintaan Pangeran Odra, para pangeran yang lain pasti akan marah. Sebab Pangeran Odra memang telah menyalahi persyaratan sayembara.

Pangeran Odra benar-benar merasa terhina. Ia adalah putra raja dari kerajaan besar. Di kerajaannya, ia sangat dihormati sebagai putra raja yang gagah perkasa. Maka, tak ayal lagi, Putri Helena ditangkapnya. Ketika para pengawal akan bertindak menolong junjungan itu, Pangeran Odra menempelkan pedang ke leher Putri Helena. “Kalau kalian mendekat, leher Putri Helena akan putus!” ancamnya.

Pangeran Odra kemudian membawa putri Helena ke kapalnya. Di kapal itu, Putri Helena ditempatkan di sebuah kamar yang sangat indah dan menguncinya rapat-rapat. Malam harinya, Pangeran Odra membuka pintu kamar itu. Tapi apa yang terjadi? Kamar itu telah kosong dan gelap. Yang ada cuma secercah cahaya yang bergerak mendekati Pangeran Odra. Pangeran Odra lari ketakutan. Ia menyangka cahaya itu adalah hantu. Cahaya yang berkelap-kelip itu terus mengejarnya. Karena sangat ketakutan, Pangeran Odra berlari tanpa memperhatikan apa pun. Akhirnya ia tercebur ke laut.

Beberapa anak buahnya yang mendengar teriaka minta tolongnya, segera memberikan pertolongan. Saat itulah cahaya berkelap-kelip itu bergerak menjauh. Cahaya apakah itu? Itu seekor kunang-kunang. Ia penjelmaan Putri Helena, seperti yang diinginkannya menjadi Pelita manusia dalam kegelapan. Berkilau tak berpangku tangan.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: