//
you're reading...
Cerpen

✎ Obrolan di Warung Kopi

Pagi ini, Desa Hujan diguyur hujan deras setelah mengalami kejadian heboh semalam. Hampir sebagian penduduk tidak ada yang bisa untuk memejamkan mata kembali sampai ayam pun berkokok.

Mak Inah pun merasa demikian, ia membuka warung kopinya dengan sedikit berat karena mata yang berat menahan kantuk. Tak biasanya ia menyeruput juga kopi buatannya yang biasanya hanya diperuntukkan untuk pelanggan.

Dari kejauhan, nampak Mang Odin berjalan tegesah-gesah dengan lindungan payung bututnya. Seperti biasa setiap harinya mang Odin memang menyempatkan minum kopi di warung mang inah untuk mengganjal perutnya sebelum akhirnya pergi ke pasar untuk berdagang.
“Kopinya satu ya mak, tapi gelas besar”, mang Odin langsung memesan dan tangannya juga langsung menyambar pisang goreng yang masih sedikit mengepulkan asap. “Masih ke pasar Din?”, tanya mak Inah sambil mengaduk kopi yang telah dituang air hangat. “Iya lah mak, namanya cari uang.. ga bisa berhenti, klo berhenti ntar dapurku berhenti juga, wuahahahaha”, jawab mang Odin diiringi tawa renyahnya.

” Gimana keadaan Neng Tuti? kasihan ya…”, tanya mak Inah, sambil menyodorkan kopi hangatnya mang Odin. Mak Inah yakin Mang Odin tahu keadaan Neng Tuti yang mengalami musibah heboh semalam karena rumah mang Odin hanya selang beberapa meter saja dari rumah Neng Tuti.

“hmmm.. begitulah mak, mau dikata apa? sudah terjadi… “, ujar mang Odin sambil menyeruput kopi. “Jadi benar, gara-gara tabung gas elpiji?”, tanya mak Inah semangat. Karena memang baru-baru ini desa hujan mendapat bantuan pemerintah berupa satu set kompor gas dan sebuah tabung elpiji 3 kg setiap kepala keluarga, mak Inah pun dapat, tapi dia takut untuk menggunakannya karena sering nonton di tivi, kalau tabung itu sering meledak. Dan semalam, ternyata terbukti! Rumah Neng Tuti habis karena ledakkan tabung elpiji.

“Iya mak, karena tabung elpiji”, jawab mang odin datar sambil mengunyah pisang goreng. ” Kok ya pemerintah tega ya Din sama kita? kok diberi bantuan yang menjadi bom waktu untuk kita rakyat ini”, Mak Inah berkeluh kesah. Mang Odin hanya tersenyum kecut, mendengarnya.

“Bukan salah pemerintah mak!”, mang odin angkat bicara setelah 3 pisang goreng hangat sukses masuk ke perutnya. “Lah, salah pemerintah yo Din, orang kita ini rakyat kecil biasanya pakai subsidi minyak tanah, nah ini diganti pakai elpiji, yo ga pa pa kalau elpijinya aman, ini malah meledak dimana-mana… kan kasihan neng Tuti, mesti bangun rumah lagi! “, mak Inah protes mendengar mang odin membela pemerintah.
Gleg.. glek.. mang odin tetap santai menyeruput kopi hangatnya, sambil kembali tersenyum kecut melihat mak Inah sudah seperti aktivis HAM yang demo di kantor Gubernur. “Tetap bukan salah pemerintah mak,… pemerintah sudah berniat baik untuk memberi bantuan, kalau kita ga bisa masak karena minyak tanah yang semakin hari semakin langka, kan pemerintah juga pastinya yang disalahkan.”, ujar mang odin. “tapi menurutku, yang salah sebetulnya adalah terletak pada warna tabung gasnya..”, mang odin terus berceloteh. “Kok bisa warna tabungnya? apa hubungannya din?”, mak Inah semakin bingung.

” Lah iya mak, coba emak perhatikan! andaikan warna tabung itu merah, biru, atau kelabu pasti tidak akan meledak! “, ujar mang Odin dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya. “hmmm.. kok aku tambah tidak mengerti din? maksudnya apa? “, mak Inah tambah mengkerutkan dahinya. Senyum Mang Odin semakin melebar, ” hmmm… mak Inah ingat lagu balonku? coba… mak inah nyanyikan…. lah kan??? yang meletus balon hijau…!! begitu juga tabung gas elpiji, coba mak inah lihat… kalau yang biru jarang toh meletus… yang meletus tetap warna hijau,,, hehehehe”.

“Gubrak!!! mak Inah jatuh dari kursi panjangnya……………

http://www.cerita.indah.web.id/2010/11/obrolan-di-warung-kopi.html

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Kategori

follow

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: